Selasa, 26 Juni 2012

SAYA BANGGA MENJADI ORANG DESA



Saya berasal dari sebuah desa kecil di Sumatera Barat. Desa yang jauh dari jalan aspal. Kami harus berjalan kaki kurang lebih 2-3 km untuk sampai di Desa tetangga yang jalannya sudah diaspal untuk dapat angkutan umum. Tidak ada kendaraan roda 4 yang masuk desa kami kecuali setiap hari Jumat. Hari Jumat adalah hari pasar di desa tetangga, jaraknya kurang lebih 10 km jalan tanah naik turun bukit, dan ditempuh dengan waktu 30 menit dengan mobil “cigak baruak”. Ya, begitulah kami menyebut jenis mobil ini, yaitu mobil pick up yang kemudian dikasih tenda, dan kursi dua baris yang memanjang kebelakang. Cigak baruak sendiri artinya monyet. Dinamakan demikian karna penumpangnya banyak yang gelantungan di belakang seperti monyet karna gak muat duduk di dalam.

Waktu mau masuk SMP, saya tidak diizinkan orang tua untuk sekolah di kota. Kedua kakak saya SMP nya di kota, nge kost di rumah Saudara sekaligus menjaga dan mambantu saudara jagain anaknya karena saudara saya tersebut sakit permanen. Ya, kakak2 saya masih SMP ketika itu. Mereka harus mengerjakan pekerjaan rumah dan juga menjaga anak2 kakak saya dua orang yang masih Balita. Saya tidak bisa membayangkan anak SMP jaman sekarang melakukan itu. Orang2 dulu di satu sisi memang lebih cepat dewasa dibandingkan dengan anak sekarang.

Saya akhirnya mendaftar sekolah di SMP Kecamatan, jaraknya kurang lebih 8 km. Dari desa saya, harus melewati 3 desa (termasuk desa saya sendiri) untuk mencapai sekolah. Kebanyakan dari kami ke sekolah dengan berjalan kaki. Berangkat dari rumah jam 6.30 pagi, dan biasanya sampai sekolah jam 7.45. 3 km pertama perjalanan kami melewati jalan yang tidak diaspal. Jika musim hujan jalan tersebut akan becek dan lengket, karna terdiri dari tanah liat. Banyak diantara kami yang menjinjing sepatu dari rumah, namun banyak juga yang memakainya. Sampai di Desa sebelah, biasanya kami akan mencuci sepatu tersebut di parit depan mesjid yang airnya mengalir deras.

Sebenarnya kami tidak pernah merasa nyaman kalau melewati desa sebelah tersebut, karna mereka sering mengejek kami. “Lihat..anak desa pergi ke kota” kata mereka sambil ketawa2. “Aspalnya lengket ya?” lanjut mereka ketika mereka melihat kami membersihkan sepatu di parit depan mesjid tsb. Tapi kami tidak pernah merasa rendah dihadapan mereka, walaupun kami hanya bisa diam, karena tau ini daerah mereka. Sering mereka memprovokasi, tapi sekali lagi kami hanya bisa diam. Desa mereka satu2nya akses kami ke luar desa. Pernah suatu kali kami melayani mereka dan terjadi perkelahian. Besoknya kami terpaksa perputar melewati sawah, ladang dan bukit2 untuk menuju sekolah.

0 komentar:

Posting Komentar