Selasa, 22 Februari 2011

WIPER YANG BERZIKIR

Hujan gerimis mengiringi perjalanan kami sekeluarga menuju Mal terbesar di Pekanbaru. Liburan disini ya ke mal, kemana lagi, tempat hiburan buat anak atau sekedar refreshing…upfffff…padahal pinginnya jalan2 ke alam terbuka, dengan pemandangan indah. Tapi gak pernah sempat, slalu saja ada halangan buat cuti…
Barusan mama nya anak2 habis ngomel2, soalnya Rafa anak pertama ku (4 tahun) merengek  gak jelas, katanya lapar mau makan. Sejenak suasana di mobil senyap, yang terdengar hanya rintik hujan dan suara wiper yang menyapu kaca depan.
Anakku Rafa duduk di depan sambil menyandarkan kepala ke dashboard depan, dia habis nangis, tiba dia bangun dan bertanya, “Suara apa tu pa?”. sejenak aku mencari2 suara apa yang dimaksud. “Ini suara hapus kaca ni”, kataku. Namun dia tiba2 tersentak dengan wajah yang berseri2, skali lagi dia arahkan telinganya ke depan ingin mendengar lebih jelas lagi dan dia berteriak, “Pa, suara hapus kaca ni mirip suara orang di mesjid waktu papa sholat itu”, kemudian dia menirukan suaranya dengan lafaznya yang salah, “La ila wa illalloh” (La Ilaha illalloh). Terus dia ucapkan itu seiring suara wiper yang bergerak ke kiri dan kekanan.
Dan semakin kudengarkan dengan cermat, semakin nyaring suara Zikir itu, memenuhi segenap rongga kepalaku. Dan tiba2 semuanya ikut berzikir, mulai dari wiper, hujan, suara mobil di sebelah, suara angin yang menggoyang pepohonan….Subhanallah.

Jumat, 14 Januari 2011

LOBANG JALAN LOBANG KEHIDUPAN

Jalan jelek dan berlubang, pasti bete kalau harus melewatinya, palagi kalau sampai berbulan-bulan tidak diperbaiki. Tapi bagi sebgian orang, jalan jelek dan berlubang adalah mata pencaharian baru. Yang namanya manusia disaat terjepit  pasti ada saja cara mengambil keuntungan dari peristiwa tertentu.
Ini saya temukan ketika saya melakukan survey ke suatu daerah bernama Kilan, bagian dari kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Setelah menempuh perjalan kurang lebih 15 km dari jalan lintas timur Belilas, kami menemui kondisi jalan yang sangat parah. Jalannya tidak diaspal dan sering dilewati truk pengangkut sawit. Dibeberapa titk ditemui jalan yang sudah menjadi kubangan dan susah dilalui kendaraan baik roda empat maupun roda dua, bahkan kendaraan dengan doubel gardan sekalipun. Namun di setiap titik jalan rusak tersebut, selalu ada sekelompok orang, biasanya pemuda yang mengutip sumbangan kepada pengguna jalan. Ini hal yang biasa sebenarnya, dimana-mana sering saya jumpai seperti itu.
Yang menjadikan saya terperangah sekaligus takjub, ketika bertemu titik ke sekian dari jalan yang rusak. Jalan tersebut rusak sangat parah dan hampir tidak bisa dilewati kendaraan. Di sebelah kanan jalan tersebut sebenarnya bisa dilewati walaupun kondisinya juga tidak terlalu baik, namun anehnya sebagian jalan tersebut di kasih palang seadanya dari kayu dan ditungguin seorang bapak-bapak yang sudah tua.
Salah seorang rekan saya turun memeriksa kondisi jalan dan sekaligus menemui sang Bapak penjaga jalan, untuk memastikan kondisi jalan bisa dilewati atau tidak. Terlihat dari jauh sepertinya ada percakapan yang cukup lama antara rekan saya dan bapak tersebut. Akhirnya palang kayu tersebut dibuka dan kami dipersilakan lewat. Kami yang dalam mobil tidak mengetahui apa yang dibicarakan disana dan kenapa jalan tersebut di palang.
Setelah rekan saya naik ke mobil dan kami melewati jalan tersebut baru lah kami tanya. Ternyata rekan saya tadi membayar Sepuluh ribu rupiah, itupun setelah nego, kepada Bapak tersebut barulah kami bisa lewat. Ha…zaman sekarang, macam-macam saja cara orang mencari duit.