Jumat, 29 Juni 2012

SAYA BANGGA MENJADI ORANG DESA (PART II)



*Menonton televisi*

Kami orang Desa waktu itu tidak kenal yang namanya game watch alias gimbot, kami juga tidak pernah nonton Voltus, Gaban, Sariban, atau apalah namanya. Kami punya mainan yang kami bikin sendiri yang kami yakin lebih seru. Saat kami SD kami sudah akrab dengan yang namanya parang, gergaji, pahat dll. Yah, orang Desa dengan segala keterbatasannya memang dituntut untuk lebih kreatif.

Untuk tontonan hanya ada TVRI, waktu itu memang belum ada siaran televisi swasta. Itu pun juga hanya di rumah2 tertentu yang punya televisi, dan waktu itu belum ada orang desa yang punya televisi berwarna.
Untuk tempat menonton siaran televisi paling favorit adalah di rumah saya, yaitu rumah gadang (rumah adat) warisan turun temurun. Mungkin karena kami lebih wellcome terhadap para penonton. Kalau nonton di rumah tetangga belakang pada risih, soalnya tuan rumah sering bolak balik nyapu lantai, seolah-olah kita ngotorin rumah dia aja.

Waktu itu listrik belum masuk ke desa kami, jadi nonton tipinya pake aki (accu). Satu kali dalam seminggu aki nya harus di cas di desa sebelah yang udah lama masuk listrik. Nge cas aki tsb bisa sampai dua hari. Jadi selama dua hari tsb, nonton tipi mau tak mau harus di rumah tetangga belakang. Untuk nge cas aki tsb, kami harus membawanya dengan gerobak, waktu itu gerobak kayu, sejauh kurang lebih 3 km, naik turun bukit. Kalau naik bukit, gerobaknya dibantu tarik pake tali di depan. Perjuangan yang melelahkan hanya tuntuk nonton tipi.

Selasa, 26 Juni 2012


PERJUANGAN DURIAN GADANG DALAM MENEGAKKAN DAN MENGISI KEMERDEKAAN
(Tulisan diambil dari buku kecil yang berjudul : Masyarakat Durian Gadang Dalam Perjuangan dan Membangun Desanya, yang ditulis oleh Anshar Suhaimi)
(Bagian ke 2)

E. PENYERBUAN BELANDA PERTAMA


Tiga hari setelah peristiwa Burai-burai, tepatnya hari Selasa tanggal 6 Februari 1949, pagi-pagi sekitar jam 04.30 WSU, dalam perjalanan seorang nenek yang bernama Urai, yaitu ibu dari Sa’ah suku mandahiliang, entah tujuan beliau mau ke kincir penumbuk padi, atau ke sawah. Di Tobiang yang kira-kira berjarak 300 neter dari perumahan penduduk arah Piladang. Beliau berjumpa dengan sepasukan tentara Belanda. Berikut petikan dialog yang terjadi antara Nenek Urai dengan tentara Belanda yang sempat terdengar oleh M.Nur Dt. Sumua dan teman-temannya yang sedang ronda.
Belanda : “Angkat tangan, mana tentara, mana laki-laki, ayo tunjukkan !”
Nenek : “ampun Tuan…tabik tuan…mardeka, tidak tau tuan….!”
Belanda : “ Ayo..tunjukkan, kalau tidak kami tembak !!”
Nenek :”Mardeka tuan…tidak tau tuan…”
Belanda : “Ayo Tunjukkan….!!”
Pondok ronda hanya berjarak beberapa petak sawah dari empat kejadian, persis di kebun kelapa Rasi’ah. Mendengar hal tersebut, Dt. Sumua dan temannya berlarian masuk kampung untuk memberitahukan penduduk bahwa Belanda sudah masuk Nagari. Beduk dan tongtong dibunyikan, pertanda musuh sudah masuk. Oleh karena sangat terkejut dengan bunyi beduk dan tongtong, penduduk bangun dan berhamburan keluar rumah, walau hari masih remang-remang. Masing-masing berlarian menyelamtkan diri tak tentu arah. Namun semua sudah terlambat, Durian Gadang sudah dikepung dari segala penjuru, kecuali arah tenggara (Paini).
Di arah yang lain Belandadengan leluasa melepaskan dendam amarahnya. Mereka main tembak saja dengan siapa yang dijumpai, tak peduli perempuan atau anak-anak dan orang tua. Hanya di pendakian samping kolam (tabek) Anab ada perlawanan dari lasykar, tapi tidak seimbang. Walaupun begitu, dua orang Belanda dapat dihabisi nyawanya di tempat itu.
Setelah situasi aman, setelah musuh pergi dari Durian Gadang, dikumpulkanlah semua korban di pihak kita. Semua berjumlah 32 orang, 27 orang warga Durian Gadang dan 5 orang dari pengungsi. Korban di pihak Belanda langsung dibawa pasukannya.
Daftar nama-nama korban yang meninggal :
Warga Durian Gadang :
    1. Urai, 60 th
    2. Supi, 40 thn
    3. Roslina (digendong Supi), 1 th
    4. Asma, 16 th
    5. Nurilan, 30 th
    6. H. Zainal (Oji Inan), 50 th
    7. Nawi, 20 th
    8. Jaman, 21 th
    9. Ma’I, 20 th
    10. Malin Parmato, 55 th
    11. Muncak Amat, 67 th
    12. Murah, 25 th
    13. Radias, 25 th
    14. Sahar, 18 th
    15. Ramaini, 35 th
    16. Wahid, 60 th
    17. Dt. Maruhun, 70 th
    18. E. Bgd. Sahar, 35 th
    19. Nasar, 14 th
    20. Aib (Gudam), 63 th
    21. Anak Nurilan, 1 th
    22. H. Jamarin, 30 th
    5 (lima) orang lagi tidak teridentifikasi atau tidak ingat lagi…..
    Ctt : kalau ada yang ingat nama keluarganya yang 5 orang lagi tolong disampaikan..
    Para Pengungsi ;
    1. Guru Adam, 60 th
    2. Adik Guru Adam (Baru datang)
    3. Sahar (asal tabek patah)
    4. Anak Sahar
    5. Ajo (dari Pariaman), 58 th
    Photo korban kekejaman BElanda (Klik Foto untuk memperbesar)

    F. DURIAN GADANG JADI LAUTAN API

    Pada tanggal 2 Maret1949, dilakukan pencegatan tentara Belanda di Tanjuang Karambia, beberapa ratus meter dari Simpang BatuHampar ke arah Bukittinggi. Penghadangan ini langsung dipimpin oleh tentara kita, masyarakat menyebutnya tentara Jamhur karena komandannya bernama Jamhur). Dalam pertempuran di Tanjuang Karambia ini, pasukan kita kalah dalam adu senjata hingga jatuh 2 orang korban, yaitu Tamir dan Amir Kamal dari Piladang. Pasukan Jamhur mundur ke arah Kota Tengah, terus ke Sei Cubadak, Tambak, Guak Panjang dan terus masuk nagari Durian Gadang.
    Akan tetapi mundurnya psukan kita tidak dibiarkan begitu saja oleh tentar Belanda, Pasuka Jamhur terus dikejar. Pasukan kita sambil mundur pun terus melakukan perlawanan sambil mengatur strategi. Hingga sampai di Tambak dan Guak Panjang pertempuran berulang kembali, sampai 2 jam pasukan kita bertahan disini. Akhirnya musuh tidak dapat juga dikalahkan. Jam 2 siang pasukan Belanda sampai di Durian Gadang dalam pengejarannya.
    Sampai di Durian Gadang, jangankan tentara/lasykar ynag dijumpai, laki-lakipun tidak ada, semua sudah menghilang. Yang tinggal dan dijumpai Belanda hanya wanita dan anak-anak saja. Akhirnya untuk melampiaskan amarahnya, Belanda membumi hanguskan Durian Gadang. Rumah-rumah, lumbung padi (Kopuak/rangkiang), semua dibakarnya. Selesai pembakaran itu, barulah Belanda pergi.
    Korban pembakaran Belanda berjumlah :
    85 (delapan puluh lima) buah rumah besar dan kecil, diantara 31 Rumah Gadang, 49 rumah biasa, 1 kedai dan 4 gubuk, serta 125 buah lumbung padi (kopuak/rangkiang) semua dibakar bersama isinya. Ditambah beberap ekor ternak yang terbakar dan ditembaki. Tidak ada yang menghitung dengan jumlah uang berapa kerugian yang terjadi, namun sebagai informasi, lumbung padi waktu itu berisi penuh karena masyarakt baru panen padi.
    Dalam tempo satu setengah bulan, masyarakat Durian Gadang sudah mengalami peristiwa beruntun yang membuat mereka jatuh dalam kesedihan dan kesengsaraan, demi menegakkan dan mempertahankan Kemerdekaan republik Indonesia.
    Bantuan dari pemerintahan yang diterima setelah pembakaran Belanda waktu itu hanya berupa 1 (satu) kilogram paku bagi masyarakat yang rumahnya dibakar Belanda untuk membuat pondok penampungan.
    Setelah kejadian itu pula lah, atas pertimbangan keamanan, maka markas (pusat) Front Perjuangan Akabiluru dipindahan ke Sarik Laweh.
    Photo Bekas pembakaran Belanda
    Begini kondisi rumah penduduk setelah rumah mereka di bumu hanguskan Belanda (klik gambar untuk memperbesar)

SAYA BANGGA MENJADI ORANG DESA



Saya berasal dari sebuah desa kecil di Sumatera Barat. Desa yang jauh dari jalan aspal. Kami harus berjalan kaki kurang lebih 2-3 km untuk sampai di Desa tetangga yang jalannya sudah diaspal untuk dapat angkutan umum. Tidak ada kendaraan roda 4 yang masuk desa kami kecuali setiap hari Jumat. Hari Jumat adalah hari pasar di desa tetangga, jaraknya kurang lebih 10 km jalan tanah naik turun bukit, dan ditempuh dengan waktu 30 menit dengan mobil “cigak baruak”. Ya, begitulah kami menyebut jenis mobil ini, yaitu mobil pick up yang kemudian dikasih tenda, dan kursi dua baris yang memanjang kebelakang. Cigak baruak sendiri artinya monyet. Dinamakan demikian karna penumpangnya banyak yang gelantungan di belakang seperti monyet karna gak muat duduk di dalam.

Waktu mau masuk SMP, saya tidak diizinkan orang tua untuk sekolah di kota. Kedua kakak saya SMP nya di kota, nge kost di rumah Saudara sekaligus menjaga dan mambantu saudara jagain anaknya karena saudara saya tersebut sakit permanen. Ya, kakak2 saya masih SMP ketika itu. Mereka harus mengerjakan pekerjaan rumah dan juga menjaga anak2 kakak saya dua orang yang masih Balita. Saya tidak bisa membayangkan anak SMP jaman sekarang melakukan itu. Orang2 dulu di satu sisi memang lebih cepat dewasa dibandingkan dengan anak sekarang.

Saya akhirnya mendaftar sekolah di SMP Kecamatan, jaraknya kurang lebih 8 km. Dari desa saya, harus melewati 3 desa (termasuk desa saya sendiri) untuk mencapai sekolah. Kebanyakan dari kami ke sekolah dengan berjalan kaki. Berangkat dari rumah jam 6.30 pagi, dan biasanya sampai sekolah jam 7.45. 3 km pertama perjalanan kami melewati jalan yang tidak diaspal. Jika musim hujan jalan tersebut akan becek dan lengket, karna terdiri dari tanah liat. Banyak diantara kami yang menjinjing sepatu dari rumah, namun banyak juga yang memakainya. Sampai di Desa sebelah, biasanya kami akan mencuci sepatu tersebut di parit depan mesjid yang airnya mengalir deras.

Sebenarnya kami tidak pernah merasa nyaman kalau melewati desa sebelah tersebut, karna mereka sering mengejek kami. “Lihat..anak desa pergi ke kota” kata mereka sambil ketawa2. “Aspalnya lengket ya?” lanjut mereka ketika mereka melihat kami membersihkan sepatu di parit depan mesjid tsb. Tapi kami tidak pernah merasa rendah dihadapan mereka, walaupun kami hanya bisa diam, karena tau ini daerah mereka. Sering mereka memprovokasi, tapi sekali lagi kami hanya bisa diam. Desa mereka satu2nya akses kami ke luar desa. Pernah suatu kali kami melayani mereka dan terjadi perkelahian. Besoknya kami terpaksa perputar melewati sawah, ladang dan bukit2 untuk menuju sekolah.

Selasa, 22 Februari 2011

WIPER YANG BERZIKIR

Hujan gerimis mengiringi perjalanan kami sekeluarga menuju Mal terbesar di Pekanbaru. Liburan disini ya ke mal, kemana lagi, tempat hiburan buat anak atau sekedar refreshing…upfffff…padahal pinginnya jalan2 ke alam terbuka, dengan pemandangan indah. Tapi gak pernah sempat, slalu saja ada halangan buat cuti…
Barusan mama nya anak2 habis ngomel2, soalnya Rafa anak pertama ku (4 tahun) merengek  gak jelas, katanya lapar mau makan. Sejenak suasana di mobil senyap, yang terdengar hanya rintik hujan dan suara wiper yang menyapu kaca depan.
Anakku Rafa duduk di depan sambil menyandarkan kepala ke dashboard depan, dia habis nangis, tiba dia bangun dan bertanya, “Suara apa tu pa?”. sejenak aku mencari2 suara apa yang dimaksud. “Ini suara hapus kaca ni”, kataku. Namun dia tiba2 tersentak dengan wajah yang berseri2, skali lagi dia arahkan telinganya ke depan ingin mendengar lebih jelas lagi dan dia berteriak, “Pa, suara hapus kaca ni mirip suara orang di mesjid waktu papa sholat itu”, kemudian dia menirukan suaranya dengan lafaznya yang salah, “La ila wa illalloh” (La Ilaha illalloh). Terus dia ucapkan itu seiring suara wiper yang bergerak ke kiri dan kekanan.
Dan semakin kudengarkan dengan cermat, semakin nyaring suara Zikir itu, memenuhi segenap rongga kepalaku. Dan tiba2 semuanya ikut berzikir, mulai dari wiper, hujan, suara mobil di sebelah, suara angin yang menggoyang pepohonan….Subhanallah.

Jumat, 14 Januari 2011

LOBANG JALAN LOBANG KEHIDUPAN

Jalan jelek dan berlubang, pasti bete kalau harus melewatinya, palagi kalau sampai berbulan-bulan tidak diperbaiki. Tapi bagi sebgian orang, jalan jelek dan berlubang adalah mata pencaharian baru. Yang namanya manusia disaat terjepit  pasti ada saja cara mengambil keuntungan dari peristiwa tertentu.
Ini saya temukan ketika saya melakukan survey ke suatu daerah bernama Kilan, bagian dari kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Setelah menempuh perjalan kurang lebih 15 km dari jalan lintas timur Belilas, kami menemui kondisi jalan yang sangat parah. Jalannya tidak diaspal dan sering dilewati truk pengangkut sawit. Dibeberapa titk ditemui jalan yang sudah menjadi kubangan dan susah dilalui kendaraan baik roda empat maupun roda dua, bahkan kendaraan dengan doubel gardan sekalipun. Namun di setiap titik jalan rusak tersebut, selalu ada sekelompok orang, biasanya pemuda yang mengutip sumbangan kepada pengguna jalan. Ini hal yang biasa sebenarnya, dimana-mana sering saya jumpai seperti itu.
Yang menjadikan saya terperangah sekaligus takjub, ketika bertemu titik ke sekian dari jalan yang rusak. Jalan tersebut rusak sangat parah dan hampir tidak bisa dilewati kendaraan. Di sebelah kanan jalan tersebut sebenarnya bisa dilewati walaupun kondisinya juga tidak terlalu baik, namun anehnya sebagian jalan tersebut di kasih palang seadanya dari kayu dan ditungguin seorang bapak-bapak yang sudah tua.
Salah seorang rekan saya turun memeriksa kondisi jalan dan sekaligus menemui sang Bapak penjaga jalan, untuk memastikan kondisi jalan bisa dilewati atau tidak. Terlihat dari jauh sepertinya ada percakapan yang cukup lama antara rekan saya dan bapak tersebut. Akhirnya palang kayu tersebut dibuka dan kami dipersilakan lewat. Kami yang dalam mobil tidak mengetahui apa yang dibicarakan disana dan kenapa jalan tersebut di palang.
Setelah rekan saya naik ke mobil dan kami melewati jalan tersebut baru lah kami tanya. Ternyata rekan saya tadi membayar Sepuluh ribu rupiah, itupun setelah nego, kepada Bapak tersebut barulah kami bisa lewat. Ha…zaman sekarang, macam-macam saja cara orang mencari duit.

Selasa, 06 Juli 2010

LIHATLAH SIM ANDA SAAT ULANG TAHUN

Hari Minggu itu aku kembali ke Kota rengat tempatku bertugas setelah weekend an di Pekanbaru, Keluarga sementara tinggal di Pekanbaru berhubung mertua lagi umrah, jadi istriku tinggal dulu disana untuk jaga adik2nya. Sempat terpikir untuk singgah dulu di SPBU Pangkalan Kerinci tempatku biasanya berhenti sejenak untuk ngopi, baru 60 km dari Pekanbaru, tapi mata sudah agak ngantuk, padahal baru jam 16.30 WIB.
Tapi kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan karena takut makin malam di jalan dan tidak sempat nonton bola pikirku (padahal malam itu tidak ada jadwal bola). Perjalanan masih kira-kira 2 jam lagi menuju Rengat. Jalannya kebanyakkan lurus namun berbukit-bukit, disana sini banyak lobang di aspal yang sengaja digali untuk ditambal. Maklumlah, dasar jalan berupa tanah gambut, sehingga banyak aspal yang turun, bergelombang, keriting, dan bahkan keriting berlapis.
Nah..aku akhirnya sampai ke jalan beton, puluhan tahun disini jalan aspal gak bisa bagus, akhirnya jalan tersebut dikeraskan dengan beton, panjang jalannya kira-kira 10 km. Masih diiringi hentakan musik yang berisik dari SOAD dan kecepatan di jalan beton 80 km/jam, suara roda terdengar agak berisik dibanding di jalan aspal.
uppsss....di ujung sana berjejer sekelompok sepeda motor berhenti di pinggir jalan, namun sepertinya mereka bukanlah satu rombongan karena diliat dari gaya, jenis dan usia mereka juga tidak seragam. Mereka terlihat memandang jauh ke arah depan dengan pandangan ragu dan khawatir.  Pantas lah kupikir...dari kejauhan terlihat beberapa orang polantas menghentikan kendaraan lewat, di pinggir jalan terlihat plang dengan tulisan Operasi....ah...tidak sempat membaca lebih lanjut, mobulku sudah melewatinya.
Seorang polisi menyuruhku ke pinggir, tapi kok mobil yang didepan gak disuruh ya, trus mobil di belakangku juga tidak? Padahal aku pakai safety belt. Safety belt tidak pernah pernah lupa kupakai sejak kena tilang 2 kali di pekanbaru gara2 kelupaan pakai. Mungkin karna kaca depanku pakai kaca filem 40% jadi aku gak kliatan makai safety belt kupikir.
"selamat siang Pak, maaf mengganggu perjalanan Bapak", Pak Polisinya ramah, "bisa liat SIM dan STNK nya?" ujarnya lagi. Aku masih tetap tenang, toh aku gak pernah melanggar peraturan, SIM ku ada, STNK ada, Safety belt pakai. SIM ku kukeluarkan dan kuberikan pada Pak Polisi, "Oke, sekarang STNK nya pak?" tanya pak Polisi lagi setelah melihat SIM ku dan menyerahkan padaku. Segera kuambil STNK di dompet gantungan kunci, namun sang Polisi segera berucap, "oke gakpapa pak, silakan lanjut" katanya.
Segera kunci kontak kunyalakan lagi, tapi tiba-tiba..."maaf pak boleh liat SIM nya lagi? Aku heran dan menyerahkan SIM lagi. "Maaf pak SIM Bapak mati ujarnya". Aku segera melihat ke tanggal berlakunya SIM dan....astaga..SIM ku habis masa berlakunya kemarin...ya cuma satu hari sejak masa berlakunya SIM habis aku kena razia. "SIM mati sama dengan tidak punya SIM PAk" kata Pak Polisi, "dendanya satu juta atau 3 bulan kurungan, itu berdasarkan UU no 22 tahun bla bla bla..."aku tidak memperhatikan lagi ucapan Pak Polisi. Aku cuma berpikir gimana supaya aku bisa lolos, bayar satu juta untuk SIM yang baru mati satu hari, aku tidak rela, toh walau sudah mati belum bau bangkai pikirku.
"Maaf Pak, enggg...anu...engggg..gimana kalau...maaf pak...saya tidak punya duit sebesar itu" aku gak bisa menyusun kata-kata mau bilang apa. Sebenarnya aku mau bilang damai ajalah pak, berapa saya harus bayar agar tidak ditilang, tapi hati kecil saya kok gak nurut apa yang mau saya bilang. tapi polisi itu ngerti. Ahirnya saya berani juga bilang “Pak, saya ada perlu, saya gak mungkin ikut sidang dan membayar sebesar itu, lagian SIM saya juga matinya tidak lama, baru kemarin, berapa lah saya harus bayar asal jangan sebanyak itu.
Akhirnya setelah nego, aku bayar 100 ribu, duh nasib, padahal duit juga lagi gak banyak2 amat. Blum lagi mikirnya buat balik minggu depan, soalnya SIM bisa diperpanjang di Pekanbaru, jadi harus ke Pekanbaru lagi minggu depan buat memperpanjang SIM, artinya masih ada kesempatan buatku untuk ditangkap lagi…..ho….ho…ho. Aku gak habis pikir, setelah 5 tahun SIM kusimpan di dompet dan tidak pernah kena razia, mengapa ketika masa berlakunya habis baru satu hari aku kena razia? Tuhan memang suka bercanda kupikir.


Jumat, 04 Juni 2010

Garmin mobile XT di Hapemu


Amazing…setelah sekian lama saya memandang sebelah mata dengan aplikasi GPS yang ada di hape saya, soalnya di pelosok kayak gini gak masuk peta di google maps ataupun nokia maps, akhirnya dapat juga aplikasi buat hape yang menyediakan map alias peta bahkan sampai ke pelosok. Selama ini hanya ada peta buat kota-kota besar saja.
Bahkan yang membuat takjub adalah kenyataan bahwa pangkas rambut depan rumah saya pun ternyata ada di peta…kalau gak percaya, liatlah nanti peta Dabo Singkep tempat saya dulu bertugas, lengkap bahkan terkesan Lebay, karena kita akan melihat begitu banyak lambang pertamina yang biasanya digunakan untuk menandakan SPBU, padahal disana Cuma kios bensin….
Oh..ya aplikasi nya namanya Garmin mobile XT. Aplikasi ini bisa diinstal ke hape yang punya sistem operasi Symbian 6rd seperti N95 8GB punya saya.
Nah tutorialnya pertama dapat di blognya seseorang
http://arifdiamanta.wordpress.com/2009/05/26/cara-gratis-menggunakan-garmin-mobile-xt-di-e71/
tapi katanya boleh disadur, namun ada perubahan disana sini terutama alamat link yang diberikan ada yang sudah expired.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
  1. Download Garmin Mobile XT di http://www8.garmin.com/support/agree.jsp?id=3939 atau http://www8.garmin.com/support/collection.jsp?product=010-11034-00 untuk list versi lengkapnya.
  2. Setelah selesai di donlot, colok hp dengan kabel data. Gunakan mode ‘mass storage’, JANGAN mode PC Suite.
  3. Jalankan file yang kita donlot tadi, maka akan tampil installer untuk Garmin ke memorycard hp kita. Kalo langkahnya sudah benar, maka target install nya secara otomatis akan diarahkan ke memory card hp.
  4. Setelah selesai terinstall, cabut kabel data; Jalankan file manager di hp kita > cari file GarminMobileXT.sis di root directory memory card. Kalo ga ada, coba cari di folder Garmin.
  5. Sekarang Garmin sudah terinstall di hp, jangan di jalankan dulu.
  6. Donlot peta Indonesia di : http://navigasi.net/goptd.php
  7. Ektrak file yg barusan kita donlot ke hardisk.
  8. Colok hp ke pc masih pada mode mass storage. Pindahkan ISI dari folder hasil ekstrak nya, BUKAN foldernya. Masukan file yang banyak itu ke dalam folder Garmin itu. Memang jadi agak berantakan sih kelihatannya. Kalo udah ke copy, cabut kabel data.
  9. Nah selanjutnya kita perlu apikasi Garmin Unlock Key Generator, kalau di blog aslinya dpat di cari di noeman, ternyata setelah di download, gak ketemu, akhirnya terpaksa nanya om Google, ketik aja download Garmin Unlock Generator. Ketemunya di alamat http://filespump.com/garmin-unlock-generator-2010.html
  10. Sekarang jalankan Garmin di HP. Pilih agree atau yes pada setiap pertanyaan > pada saat pertanyaan untuk masukan nomor registrasi > pilih pilihan yang paling bawah (sori lupa tulisannya apa)
  11. Kalo betul, kita akan masuk ke menu Garmin, tapi karena belom di register jadi belom bisa di pake. Masuk ke menu konfigurasi/settings > about > liat nomor ‘Card ID’nya Jangan di tutup dulu.
  12. Jalankan file keygen Garmin_Unlock_Generator.exe yang kita donlot, masukan angka2 di Card Id Garmin ke kolom Unit ID keygen tersebut. Klik ‘GENERATE’Setelah itu akan muncul angka2 baru dikolom ‘Software Unlock Code’ > copy angka2 itu.
  13. Bikin file notepad baru di windows, paste angka2 yang barusan kita copy itu.
  14. Save file notepad itu menjadi GMAPSUPP.UNL kedalam folder Garmin di memory card hp. (Tentunya SETELAH kita menutup Garmin di HP, colokkan kembali hp ke pc – mode mass storage). Ingat, jangan simpan dalam format txt.
  15. Kalo langkah2 tadi diikuti dengan benar, maka Garmin Mobile XT akan sukses terinstall di hp kita.