Kamis, 12 Juli 2012

WARTAWAN YANG KUKENAL


Wartawan pertama yang kukenal adalah Bapakku. Beliau adalah wartawan koran harian terbesar di Sumatera Barat yaitu Harian Singgalang. Itu dulu sebelum group Jawa Pos menyerbu dan merajai media di Sumatera Barat. Sekarang beliau tidak lagi menjadi wartawan. Aku tidak ingat kapan beliau meninggalkan profesi itu. Dulu Beliau punya ruang kerja sendiri di rumah. Aku sering ngintip bapak ngetik berita sampai larut malam. Bapakku hebat, dia ngetik tanpa liat tuts mesin ketik. Dari beliau jugalah aku belajar mengetik sepuluh jari, itu istilah kalau ngetik make semua jari.

Dengan Bapak pulalah aku belajar memotret. Bapak mengajarkan bagaimana mencari fokus, mengatur bukaan lensa dan kecepatan cahaya. Waktu itu kamera belumlah otomatis seperti sekarang. Yang hebatnya, Bapak mengajarkanku memotret tanpa blitz di dalam lorong Goa Jepang di Bukittinggi yang temaram.
Dulu di rumah banyak sekali foto-foto. Bermacam-macam foto ada disitu entah milik siapa. Bapak punya tempat foto yang berbentuk kaleng kotak. Kata Ibu ku, Bapak kadang juga sering nyambi jadi juru foto. Banyak foto-foto yang aneh dan bikin takjub, seperti foto bus masuk jurang, foto rekontruksi pembunuhan. Tapi lebih banyak lagi foto-foto orang salaman dan berpose bersama.

Aku merasa Bapak sangat hebat, karena waktu itu setiap ada razia kendaraan bermotor, bapak selalu dibiarkan lewat. Bapak bilang polisi-polisi itu kenal dengannya. Hebat betul jadi wartawan, kupikir. Tapi aku yakin sekali, Bapak orangnya patuh dengan peraturan. Waktu bangun rumah kami yang di desa terpencil aja, bapak sibuk ngurus IMB nya ke kantor Bupati.

Wartawan yang kukenal kemudian adalah setelah aku dewasa. Ketika aku bertugas di suatu daerah di Kepulauan Riau, pertama kali didatangi wartawan dari organisasi wartawan yang bukan PWI. Mereka berdua datang dari daerah Sumatera Utara. Setelah berbasa-basi sebentar, mereka kemudian mengeluarkan koran mingguan dan beberapa kalender juga sebuah kuitansi. Di kuitansi tertulis angka 400 ratus ribu rupiah. Koran berikut kalender dihargai 400 ribu rupiah dan aku haus beli. Tiba-tiba aku ingat bapak, apa bapakku juga dulu jual kalender pikirku. Ah tapi gak mungkin, bapakku wartawan asli.

Akhirnya mereka kukasih uang 50.000 dalam amplop. Mereka kelihatan kecewa, “kalau limapuluh ribu tidak dapat kalender Pak,” ujarnya.”Gak apa-apa”’ kataku sambil tersenyum. Buat apa juga kalender yang bergambar mereka semua.

Wartawan-wartawan berikut yang aku kenal juga tidak berbeda dengan wartawan yang menjual kalender tadi. Ada yang menjual majalah yang namanya sepintas mirip majalah terkenal ibukota, tapi yang ini kadang terbit, kadang nggak. Ada juga wartawan yang sering ngancam mau masukin aku ke koran, eeh, ya justru baguskan bikin aku terkenal. Pernah sekali waktu aku terpaksa memutus listrik rumah salah seorang wartawan karena nunggak sudah 5 bulan. Kemudian dia minta dispensasi karena majalahnya belum terjual. Akhirnya aku beli semua majalah yang dia bawa dan kusuruh dia bayar listrik di loket.

Kemudian media-media besar mulai masuk ke daerahku. Wartawan-wartawan atau kontributor dari media besar tersebut lebih profesional. Aku lebih nyaman bergaul dengan mereka, kami bisa sama-sama ngopi di kedai kopi kalau merasa di kantor terlalu formal. Mereka murni wartawan, mereka tidak meminta uang atau menjual apapun, itu yang penting.

Sesudut didalam hatiku, masih terselip keinginanku untuk menjadi wartawan, seperti Bapakku atau seperti temanku di jiplus, bang Jarar.

Jumat, 29 Juni 2012

SAYA BANGGA MENJADI ORANG DESA (PART II)



*Menonton televisi*

Kami orang Desa waktu itu tidak kenal yang namanya game watch alias gimbot, kami juga tidak pernah nonton Voltus, Gaban, Sariban, atau apalah namanya. Kami punya mainan yang kami bikin sendiri yang kami yakin lebih seru. Saat kami SD kami sudah akrab dengan yang namanya parang, gergaji, pahat dll. Yah, orang Desa dengan segala keterbatasannya memang dituntut untuk lebih kreatif.

Untuk tontonan hanya ada TVRI, waktu itu memang belum ada siaran televisi swasta. Itu pun juga hanya di rumah2 tertentu yang punya televisi, dan waktu itu belum ada orang desa yang punya televisi berwarna.
Untuk tempat menonton siaran televisi paling favorit adalah di rumah saya, yaitu rumah gadang (rumah adat) warisan turun temurun. Mungkin karena kami lebih wellcome terhadap para penonton. Kalau nonton di rumah tetangga belakang pada risih, soalnya tuan rumah sering bolak balik nyapu lantai, seolah-olah kita ngotorin rumah dia aja.

Waktu itu listrik belum masuk ke desa kami, jadi nonton tipinya pake aki (accu). Satu kali dalam seminggu aki nya harus di cas di desa sebelah yang udah lama masuk listrik. Nge cas aki tsb bisa sampai dua hari. Jadi selama dua hari tsb, nonton tipi mau tak mau harus di rumah tetangga belakang. Untuk nge cas aki tsb, kami harus membawanya dengan gerobak, waktu itu gerobak kayu, sejauh kurang lebih 3 km, naik turun bukit. Kalau naik bukit, gerobaknya dibantu tarik pake tali di depan. Perjuangan yang melelahkan hanya tuntuk nonton tipi.

Selasa, 26 Juni 2012


PERJUANGAN DURIAN GADANG DALAM MENEGAKKAN DAN MENGISI KEMERDEKAAN
(Tulisan diambil dari buku kecil yang berjudul : Masyarakat Durian Gadang Dalam Perjuangan dan Membangun Desanya, yang ditulis oleh Anshar Suhaimi)
(Bagian ke 2)

E. PENYERBUAN BELANDA PERTAMA


Tiga hari setelah peristiwa Burai-burai, tepatnya hari Selasa tanggal 6 Februari 1949, pagi-pagi sekitar jam 04.30 WSU, dalam perjalanan seorang nenek yang bernama Urai, yaitu ibu dari Sa’ah suku mandahiliang, entah tujuan beliau mau ke kincir penumbuk padi, atau ke sawah. Di Tobiang yang kira-kira berjarak 300 neter dari perumahan penduduk arah Piladang. Beliau berjumpa dengan sepasukan tentara Belanda. Berikut petikan dialog yang terjadi antara Nenek Urai dengan tentara Belanda yang sempat terdengar oleh M.Nur Dt. Sumua dan teman-temannya yang sedang ronda.
Belanda : “Angkat tangan, mana tentara, mana laki-laki, ayo tunjukkan !”
Nenek : “ampun Tuan…tabik tuan…mardeka, tidak tau tuan….!”
Belanda : “ Ayo..tunjukkan, kalau tidak kami tembak !!”
Nenek :”Mardeka tuan…tidak tau tuan…”
Belanda : “Ayo Tunjukkan….!!”
Pondok ronda hanya berjarak beberapa petak sawah dari empat kejadian, persis di kebun kelapa Rasi’ah. Mendengar hal tersebut, Dt. Sumua dan temannya berlarian masuk kampung untuk memberitahukan penduduk bahwa Belanda sudah masuk Nagari. Beduk dan tongtong dibunyikan, pertanda musuh sudah masuk. Oleh karena sangat terkejut dengan bunyi beduk dan tongtong, penduduk bangun dan berhamburan keluar rumah, walau hari masih remang-remang. Masing-masing berlarian menyelamtkan diri tak tentu arah. Namun semua sudah terlambat, Durian Gadang sudah dikepung dari segala penjuru, kecuali arah tenggara (Paini).
Di arah yang lain Belandadengan leluasa melepaskan dendam amarahnya. Mereka main tembak saja dengan siapa yang dijumpai, tak peduli perempuan atau anak-anak dan orang tua. Hanya di pendakian samping kolam (tabek) Anab ada perlawanan dari lasykar, tapi tidak seimbang. Walaupun begitu, dua orang Belanda dapat dihabisi nyawanya di tempat itu.
Setelah situasi aman, setelah musuh pergi dari Durian Gadang, dikumpulkanlah semua korban di pihak kita. Semua berjumlah 32 orang, 27 orang warga Durian Gadang dan 5 orang dari pengungsi. Korban di pihak Belanda langsung dibawa pasukannya.
Daftar nama-nama korban yang meninggal :
Warga Durian Gadang :
    1. Urai, 60 th
    2. Supi, 40 thn
    3. Roslina (digendong Supi), 1 th
    4. Asma, 16 th
    5. Nurilan, 30 th
    6. H. Zainal (Oji Inan), 50 th
    7. Nawi, 20 th
    8. Jaman, 21 th
    9. Ma’I, 20 th
    10. Malin Parmato, 55 th
    11. Muncak Amat, 67 th
    12. Murah, 25 th
    13. Radias, 25 th
    14. Sahar, 18 th
    15. Ramaini, 35 th
    16. Wahid, 60 th
    17. Dt. Maruhun, 70 th
    18. E. Bgd. Sahar, 35 th
    19. Nasar, 14 th
    20. Aib (Gudam), 63 th
    21. Anak Nurilan, 1 th
    22. H. Jamarin, 30 th
    5 (lima) orang lagi tidak teridentifikasi atau tidak ingat lagi…..
    Ctt : kalau ada yang ingat nama keluarganya yang 5 orang lagi tolong disampaikan..
    Para Pengungsi ;
    1. Guru Adam, 60 th
    2. Adik Guru Adam (Baru datang)
    3. Sahar (asal tabek patah)
    4. Anak Sahar
    5. Ajo (dari Pariaman), 58 th
    Photo korban kekejaman BElanda (Klik Foto untuk memperbesar)

    F. DURIAN GADANG JADI LAUTAN API

    Pada tanggal 2 Maret1949, dilakukan pencegatan tentara Belanda di Tanjuang Karambia, beberapa ratus meter dari Simpang BatuHampar ke arah Bukittinggi. Penghadangan ini langsung dipimpin oleh tentara kita, masyarakat menyebutnya tentara Jamhur karena komandannya bernama Jamhur). Dalam pertempuran di Tanjuang Karambia ini, pasukan kita kalah dalam adu senjata hingga jatuh 2 orang korban, yaitu Tamir dan Amir Kamal dari Piladang. Pasukan Jamhur mundur ke arah Kota Tengah, terus ke Sei Cubadak, Tambak, Guak Panjang dan terus masuk nagari Durian Gadang.
    Akan tetapi mundurnya psukan kita tidak dibiarkan begitu saja oleh tentar Belanda, Pasuka Jamhur terus dikejar. Pasukan kita sambil mundur pun terus melakukan perlawanan sambil mengatur strategi. Hingga sampai di Tambak dan Guak Panjang pertempuran berulang kembali, sampai 2 jam pasukan kita bertahan disini. Akhirnya musuh tidak dapat juga dikalahkan. Jam 2 siang pasukan Belanda sampai di Durian Gadang dalam pengejarannya.
    Sampai di Durian Gadang, jangankan tentara/lasykar ynag dijumpai, laki-lakipun tidak ada, semua sudah menghilang. Yang tinggal dan dijumpai Belanda hanya wanita dan anak-anak saja. Akhirnya untuk melampiaskan amarahnya, Belanda membumi hanguskan Durian Gadang. Rumah-rumah, lumbung padi (Kopuak/rangkiang), semua dibakarnya. Selesai pembakaran itu, barulah Belanda pergi.
    Korban pembakaran Belanda berjumlah :
    85 (delapan puluh lima) buah rumah besar dan kecil, diantara 31 Rumah Gadang, 49 rumah biasa, 1 kedai dan 4 gubuk, serta 125 buah lumbung padi (kopuak/rangkiang) semua dibakar bersama isinya. Ditambah beberap ekor ternak yang terbakar dan ditembaki. Tidak ada yang menghitung dengan jumlah uang berapa kerugian yang terjadi, namun sebagai informasi, lumbung padi waktu itu berisi penuh karena masyarakt baru panen padi.
    Dalam tempo satu setengah bulan, masyarakat Durian Gadang sudah mengalami peristiwa beruntun yang membuat mereka jatuh dalam kesedihan dan kesengsaraan, demi menegakkan dan mempertahankan Kemerdekaan republik Indonesia.
    Bantuan dari pemerintahan yang diterima setelah pembakaran Belanda waktu itu hanya berupa 1 (satu) kilogram paku bagi masyarakat yang rumahnya dibakar Belanda untuk membuat pondok penampungan.
    Setelah kejadian itu pula lah, atas pertimbangan keamanan, maka markas (pusat) Front Perjuangan Akabiluru dipindahan ke Sarik Laweh.
    Photo Bekas pembakaran Belanda
    Begini kondisi rumah penduduk setelah rumah mereka di bumu hanguskan Belanda (klik gambar untuk memperbesar)

SAYA BANGGA MENJADI ORANG DESA



Saya berasal dari sebuah desa kecil di Sumatera Barat. Desa yang jauh dari jalan aspal. Kami harus berjalan kaki kurang lebih 2-3 km untuk sampai di Desa tetangga yang jalannya sudah diaspal untuk dapat angkutan umum. Tidak ada kendaraan roda 4 yang masuk desa kami kecuali setiap hari Jumat. Hari Jumat adalah hari pasar di desa tetangga, jaraknya kurang lebih 10 km jalan tanah naik turun bukit, dan ditempuh dengan waktu 30 menit dengan mobil “cigak baruak”. Ya, begitulah kami menyebut jenis mobil ini, yaitu mobil pick up yang kemudian dikasih tenda, dan kursi dua baris yang memanjang kebelakang. Cigak baruak sendiri artinya monyet. Dinamakan demikian karna penumpangnya banyak yang gelantungan di belakang seperti monyet karna gak muat duduk di dalam.

Waktu mau masuk SMP, saya tidak diizinkan orang tua untuk sekolah di kota. Kedua kakak saya SMP nya di kota, nge kost di rumah Saudara sekaligus menjaga dan mambantu saudara jagain anaknya karena saudara saya tersebut sakit permanen. Ya, kakak2 saya masih SMP ketika itu. Mereka harus mengerjakan pekerjaan rumah dan juga menjaga anak2 kakak saya dua orang yang masih Balita. Saya tidak bisa membayangkan anak SMP jaman sekarang melakukan itu. Orang2 dulu di satu sisi memang lebih cepat dewasa dibandingkan dengan anak sekarang.

Saya akhirnya mendaftar sekolah di SMP Kecamatan, jaraknya kurang lebih 8 km. Dari desa saya, harus melewati 3 desa (termasuk desa saya sendiri) untuk mencapai sekolah. Kebanyakan dari kami ke sekolah dengan berjalan kaki. Berangkat dari rumah jam 6.30 pagi, dan biasanya sampai sekolah jam 7.45. 3 km pertama perjalanan kami melewati jalan yang tidak diaspal. Jika musim hujan jalan tersebut akan becek dan lengket, karna terdiri dari tanah liat. Banyak diantara kami yang menjinjing sepatu dari rumah, namun banyak juga yang memakainya. Sampai di Desa sebelah, biasanya kami akan mencuci sepatu tersebut di parit depan mesjid yang airnya mengalir deras.

Sebenarnya kami tidak pernah merasa nyaman kalau melewati desa sebelah tersebut, karna mereka sering mengejek kami. “Lihat..anak desa pergi ke kota” kata mereka sambil ketawa2. “Aspalnya lengket ya?” lanjut mereka ketika mereka melihat kami membersihkan sepatu di parit depan mesjid tsb. Tapi kami tidak pernah merasa rendah dihadapan mereka, walaupun kami hanya bisa diam, karena tau ini daerah mereka. Sering mereka memprovokasi, tapi sekali lagi kami hanya bisa diam. Desa mereka satu2nya akses kami ke luar desa. Pernah suatu kali kami melayani mereka dan terjadi perkelahian. Besoknya kami terpaksa perputar melewati sawah, ladang dan bukit2 untuk menuju sekolah.

Selasa, 22 Februari 2011

WIPER YANG BERZIKIR

Hujan gerimis mengiringi perjalanan kami sekeluarga menuju Mal terbesar di Pekanbaru. Liburan disini ya ke mal, kemana lagi, tempat hiburan buat anak atau sekedar refreshing…upfffff…padahal pinginnya jalan2 ke alam terbuka, dengan pemandangan indah. Tapi gak pernah sempat, slalu saja ada halangan buat cuti…
Barusan mama nya anak2 habis ngomel2, soalnya Rafa anak pertama ku (4 tahun) merengek  gak jelas, katanya lapar mau makan. Sejenak suasana di mobil senyap, yang terdengar hanya rintik hujan dan suara wiper yang menyapu kaca depan.
Anakku Rafa duduk di depan sambil menyandarkan kepala ke dashboard depan, dia habis nangis, tiba dia bangun dan bertanya, “Suara apa tu pa?”. sejenak aku mencari2 suara apa yang dimaksud. “Ini suara hapus kaca ni”, kataku. Namun dia tiba2 tersentak dengan wajah yang berseri2, skali lagi dia arahkan telinganya ke depan ingin mendengar lebih jelas lagi dan dia berteriak, “Pa, suara hapus kaca ni mirip suara orang di mesjid waktu papa sholat itu”, kemudian dia menirukan suaranya dengan lafaznya yang salah, “La ila wa illalloh” (La Ilaha illalloh). Terus dia ucapkan itu seiring suara wiper yang bergerak ke kiri dan kekanan.
Dan semakin kudengarkan dengan cermat, semakin nyaring suara Zikir itu, memenuhi segenap rongga kepalaku. Dan tiba2 semuanya ikut berzikir, mulai dari wiper, hujan, suara mobil di sebelah, suara angin yang menggoyang pepohonan….Subhanallah.

Jumat, 14 Januari 2011

LOBANG JALAN LOBANG KEHIDUPAN

Jalan jelek dan berlubang, pasti bete kalau harus melewatinya, palagi kalau sampai berbulan-bulan tidak diperbaiki. Tapi bagi sebgian orang, jalan jelek dan berlubang adalah mata pencaharian baru. Yang namanya manusia disaat terjepit  pasti ada saja cara mengambil keuntungan dari peristiwa tertentu.
Ini saya temukan ketika saya melakukan survey ke suatu daerah bernama Kilan, bagian dari kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Setelah menempuh perjalan kurang lebih 15 km dari jalan lintas timur Belilas, kami menemui kondisi jalan yang sangat parah. Jalannya tidak diaspal dan sering dilewati truk pengangkut sawit. Dibeberapa titk ditemui jalan yang sudah menjadi kubangan dan susah dilalui kendaraan baik roda empat maupun roda dua, bahkan kendaraan dengan doubel gardan sekalipun. Namun di setiap titik jalan rusak tersebut, selalu ada sekelompok orang, biasanya pemuda yang mengutip sumbangan kepada pengguna jalan. Ini hal yang biasa sebenarnya, dimana-mana sering saya jumpai seperti itu.
Yang menjadikan saya terperangah sekaligus takjub, ketika bertemu titik ke sekian dari jalan yang rusak. Jalan tersebut rusak sangat parah dan hampir tidak bisa dilewati kendaraan. Di sebelah kanan jalan tersebut sebenarnya bisa dilewati walaupun kondisinya juga tidak terlalu baik, namun anehnya sebagian jalan tersebut di kasih palang seadanya dari kayu dan ditungguin seorang bapak-bapak yang sudah tua.
Salah seorang rekan saya turun memeriksa kondisi jalan dan sekaligus menemui sang Bapak penjaga jalan, untuk memastikan kondisi jalan bisa dilewati atau tidak. Terlihat dari jauh sepertinya ada percakapan yang cukup lama antara rekan saya dan bapak tersebut. Akhirnya palang kayu tersebut dibuka dan kami dipersilakan lewat. Kami yang dalam mobil tidak mengetahui apa yang dibicarakan disana dan kenapa jalan tersebut di palang.
Setelah rekan saya naik ke mobil dan kami melewati jalan tersebut baru lah kami tanya. Ternyata rekan saya tadi membayar Sepuluh ribu rupiah, itupun setelah nego, kepada Bapak tersebut barulah kami bisa lewat. Ha…zaman sekarang, macam-macam saja cara orang mencari duit.

Selasa, 06 Juli 2010

LIHATLAH SIM ANDA SAAT ULANG TAHUN

Hari Minggu itu aku kembali ke Kota rengat tempatku bertugas setelah weekend an di Pekanbaru, Keluarga sementara tinggal di Pekanbaru berhubung mertua lagi umrah, jadi istriku tinggal dulu disana untuk jaga adik2nya. Sempat terpikir untuk singgah dulu di SPBU Pangkalan Kerinci tempatku biasanya berhenti sejenak untuk ngopi, baru 60 km dari Pekanbaru, tapi mata sudah agak ngantuk, padahal baru jam 16.30 WIB.
Tapi kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan karena takut makin malam di jalan dan tidak sempat nonton bola pikirku (padahal malam itu tidak ada jadwal bola). Perjalanan masih kira-kira 2 jam lagi menuju Rengat. Jalannya kebanyakkan lurus namun berbukit-bukit, disana sini banyak lobang di aspal yang sengaja digali untuk ditambal. Maklumlah, dasar jalan berupa tanah gambut, sehingga banyak aspal yang turun, bergelombang, keriting, dan bahkan keriting berlapis.
Nah..aku akhirnya sampai ke jalan beton, puluhan tahun disini jalan aspal gak bisa bagus, akhirnya jalan tersebut dikeraskan dengan beton, panjang jalannya kira-kira 10 km. Masih diiringi hentakan musik yang berisik dari SOAD dan kecepatan di jalan beton 80 km/jam, suara roda terdengar agak berisik dibanding di jalan aspal.
uppsss....di ujung sana berjejer sekelompok sepeda motor berhenti di pinggir jalan, namun sepertinya mereka bukanlah satu rombongan karena diliat dari gaya, jenis dan usia mereka juga tidak seragam. Mereka terlihat memandang jauh ke arah depan dengan pandangan ragu dan khawatir.  Pantas lah kupikir...dari kejauhan terlihat beberapa orang polantas menghentikan kendaraan lewat, di pinggir jalan terlihat plang dengan tulisan Operasi....ah...tidak sempat membaca lebih lanjut, mobulku sudah melewatinya.
Seorang polisi menyuruhku ke pinggir, tapi kok mobil yang didepan gak disuruh ya, trus mobil di belakangku juga tidak? Padahal aku pakai safety belt. Safety belt tidak pernah pernah lupa kupakai sejak kena tilang 2 kali di pekanbaru gara2 kelupaan pakai. Mungkin karna kaca depanku pakai kaca filem 40% jadi aku gak kliatan makai safety belt kupikir.
"selamat siang Pak, maaf mengganggu perjalanan Bapak", Pak Polisinya ramah, "bisa liat SIM dan STNK nya?" ujarnya lagi. Aku masih tetap tenang, toh aku gak pernah melanggar peraturan, SIM ku ada, STNK ada, Safety belt pakai. SIM ku kukeluarkan dan kuberikan pada Pak Polisi, "Oke, sekarang STNK nya pak?" tanya pak Polisi lagi setelah melihat SIM ku dan menyerahkan padaku. Segera kuambil STNK di dompet gantungan kunci, namun sang Polisi segera berucap, "oke gakpapa pak, silakan lanjut" katanya.
Segera kunci kontak kunyalakan lagi, tapi tiba-tiba..."maaf pak boleh liat SIM nya lagi? Aku heran dan menyerahkan SIM lagi. "Maaf pak SIM Bapak mati ujarnya". Aku segera melihat ke tanggal berlakunya SIM dan....astaga..SIM ku habis masa berlakunya kemarin...ya cuma satu hari sejak masa berlakunya SIM habis aku kena razia. "SIM mati sama dengan tidak punya SIM PAk" kata Pak Polisi, "dendanya satu juta atau 3 bulan kurungan, itu berdasarkan UU no 22 tahun bla bla bla..."aku tidak memperhatikan lagi ucapan Pak Polisi. Aku cuma berpikir gimana supaya aku bisa lolos, bayar satu juta untuk SIM yang baru mati satu hari, aku tidak rela, toh walau sudah mati belum bau bangkai pikirku.
"Maaf Pak, enggg...anu...engggg..gimana kalau...maaf pak...saya tidak punya duit sebesar itu" aku gak bisa menyusun kata-kata mau bilang apa. Sebenarnya aku mau bilang damai ajalah pak, berapa saya harus bayar agar tidak ditilang, tapi hati kecil saya kok gak nurut apa yang mau saya bilang. tapi polisi itu ngerti. Ahirnya saya berani juga bilang “Pak, saya ada perlu, saya gak mungkin ikut sidang dan membayar sebesar itu, lagian SIM saya juga matinya tidak lama, baru kemarin, berapa lah saya harus bayar asal jangan sebanyak itu.
Akhirnya setelah nego, aku bayar 100 ribu, duh nasib, padahal duit juga lagi gak banyak2 amat. Blum lagi mikirnya buat balik minggu depan, soalnya SIM bisa diperpanjang di Pekanbaru, jadi harus ke Pekanbaru lagi minggu depan buat memperpanjang SIM, artinya masih ada kesempatan buatku untuk ditangkap lagi…..ho….ho…ho. Aku gak habis pikir, setelah 5 tahun SIM kusimpan di dompet dan tidak pernah kena razia, mengapa ketika masa berlakunya habis baru satu hari aku kena razia? Tuhan memang suka bercanda kupikir.


Jumat, 04 Juni 2010

Garmin mobile XT di Hapemu


Amazing…setelah sekian lama saya memandang sebelah mata dengan aplikasi GPS yang ada di hape saya, soalnya di pelosok kayak gini gak masuk peta di google maps ataupun nokia maps, akhirnya dapat juga aplikasi buat hape yang menyediakan map alias peta bahkan sampai ke pelosok. Selama ini hanya ada peta buat kota-kota besar saja.
Bahkan yang membuat takjub adalah kenyataan bahwa pangkas rambut depan rumah saya pun ternyata ada di peta…kalau gak percaya, liatlah nanti peta Dabo Singkep tempat saya dulu bertugas, lengkap bahkan terkesan Lebay, karena kita akan melihat begitu banyak lambang pertamina yang biasanya digunakan untuk menandakan SPBU, padahal disana Cuma kios bensin….
Oh..ya aplikasi nya namanya Garmin mobile XT. Aplikasi ini bisa diinstal ke hape yang punya sistem operasi Symbian 6rd seperti N95 8GB punya saya.
Nah tutorialnya pertama dapat di blognya seseorang
http://arifdiamanta.wordpress.com/2009/05/26/cara-gratis-menggunakan-garmin-mobile-xt-di-e71/
tapi katanya boleh disadur, namun ada perubahan disana sini terutama alamat link yang diberikan ada yang sudah expired.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
  1. Download Garmin Mobile XT di http://www8.garmin.com/support/agree.jsp?id=3939 atau http://www8.garmin.com/support/collection.jsp?product=010-11034-00 untuk list versi lengkapnya.
  2. Setelah selesai di donlot, colok hp dengan kabel data. Gunakan mode ‘mass storage’, JANGAN mode PC Suite.
  3. Jalankan file yang kita donlot tadi, maka akan tampil installer untuk Garmin ke memorycard hp kita. Kalo langkahnya sudah benar, maka target install nya secara otomatis akan diarahkan ke memory card hp.
  4. Setelah selesai terinstall, cabut kabel data; Jalankan file manager di hp kita > cari file GarminMobileXT.sis di root directory memory card. Kalo ga ada, coba cari di folder Garmin.
  5. Sekarang Garmin sudah terinstall di hp, jangan di jalankan dulu.
  6. Donlot peta Indonesia di : http://navigasi.net/goptd.php
  7. Ektrak file yg barusan kita donlot ke hardisk.
  8. Colok hp ke pc masih pada mode mass storage. Pindahkan ISI dari folder hasil ekstrak nya, BUKAN foldernya. Masukan file yang banyak itu ke dalam folder Garmin itu. Memang jadi agak berantakan sih kelihatannya. Kalo udah ke copy, cabut kabel data.
  9. Nah selanjutnya kita perlu apikasi Garmin Unlock Key Generator, kalau di blog aslinya dpat di cari di noeman, ternyata setelah di download, gak ketemu, akhirnya terpaksa nanya om Google, ketik aja download Garmin Unlock Generator. Ketemunya di alamat http://filespump.com/garmin-unlock-generator-2010.html
  10. Sekarang jalankan Garmin di HP. Pilih agree atau yes pada setiap pertanyaan > pada saat pertanyaan untuk masukan nomor registrasi > pilih pilihan yang paling bawah (sori lupa tulisannya apa)
  11. Kalo betul, kita akan masuk ke menu Garmin, tapi karena belom di register jadi belom bisa di pake. Masuk ke menu konfigurasi/settings > about > liat nomor ‘Card ID’nya Jangan di tutup dulu.
  12. Jalankan file keygen Garmin_Unlock_Generator.exe yang kita donlot, masukan angka2 di Card Id Garmin ke kolom Unit ID keygen tersebut. Klik ‘GENERATE’Setelah itu akan muncul angka2 baru dikolom ‘Software Unlock Code’ > copy angka2 itu.
  13. Bikin file notepad baru di windows, paste angka2 yang barusan kita copy itu.
  14. Save file notepad itu menjadi GMAPSUPP.UNL kedalam folder Garmin di memory card hp. (Tentunya SETELAH kita menutup Garmin di HP, colokkan kembali hp ke pc – mode mass storage). Ingat, jangan simpan dalam format txt.
  15. Kalo langkah2 tadi diikuti dengan benar, maka Garmin Mobile XT akan sukses terinstall di hp kita.

Rabu, 02 Desember 2009

SEGITIGA KEHIDUPAN


Segitiga Kehidupan
Saat terjadi gempa
Doug Copp, Kepala Penyelam at dan Manajer Bencana dari American Rescue Team International (ARTI),

Pengalaman
Saya telah merangkak di bawah 875 reruntuhan bangunan, bekerja sama dengan tim penyelamat dari 60 negara, dan mendirikan tim penyelamat di beberapa negara serta salah satu dari ahli PBB untuk Mitigasi Bencana selama 2 tahun.
Saya telah bekerja di seluruh bencana besar di dunia sejak tahun 1985.
Pada tahun 1996 kami membuat film yang membuktikan keakuratan metode bertahan hidup yang saya buat.

Percobaan
Kami meruntuhkan sebuah sekolah dan rumah dengan 20 boneka di dalamnya. 10 boneka "menunduk dan berlindung" dan 10 lainnya menggunakan metode bertahan hidup "segitiga kehidupan".
Setelah simulasi gempa, kami merangkak ke dalam puing-puing dan masuk ke dalam bangunan untuk membuat dukumentasi film mengenai hasilnya. Film itu menunjukkan bahwa mereka yang menunduk dan berlindung tidak dapat bertahan hidup dan mereka yang menggunakan metode saya "segitiga kehidupan" bertahan hidup 100%.
Film ini telah dilihat oleh jutaan orang melalui televisi di Turki dan sebagian Eropa, dan disaksikan pada program televisi di USA, Canada dan Amerika Latin.

Fakta
Bangunan pertama yang saya masuki adalah sebuah sekolah di Mexico City pada gempa bumi tahun 1985.
Semua anak berlindung di bawah meja masing-masing.
Semua anak remuk sampai ke tulang mereka. Mereka mungkin dapat selamat jika berbaring di samping meja masing-masing di lorong.
Pada saat itu, murid-murid diajarkan untuk berlindung di bawah sesuatu.

Teori segitiga kehidupan
Secara sederhana, saat bangunan runtuh, langit- langit akan runtuh menimpa benda atau furniture sehingga menghancurk an benda-benda ini, menyisakan ruangan kosong di sebelahnya.
Ruangan kosong ini lah yang saya sebut "segitiga kehidupan".
Semakin besar bendanya, maka semakin kuat benda tersebut dan semakin kecil kemungkinannya untuk remuk.
Semakin sedikit remuk, semakin besar ruang kosongnya, semakin besar kemungkinan untuk orang yang menggunakannya untuk selamat dari luka-luka.

Amati
Suatu saat anda melihat bangunan runtuh di televisi, hitunglah "segitiga kehidupan" yang anda temui.
Segitiga ini ada di mana- mana dan merupakan bentuk yang umum.

Sepuluh Tip dalam Keselamatan Gempa Bumi
1. Hampir semua orang yang hanya "menunduk dan berlindung" pada saat bangunan runtuh meninggal karena tertimpa runtuhan. Orang-orang yang berlindung di bawah suatu benda akan remuk badannya.

2. Kucing, anjing dan bayi biasanya mengambil posisi meringkuk secara alami. Itu juga yang harus anda lakukan pada saat gempa.
Ini adalah insting alami untuk menyelamatkan diri. Anda dapat bertahan hidup dalam ruangan yang sempit.
Ambil posisi di samping suatu benda, di samping sofa, di samping benda besar yang akan remuk sedikit tapi menyisakan ruangan kosong di sebelahnya

3. Bangunan dari kayu adalah tipe konstruksi yang paling aman selama gempa bumi. Kayu bersifat lentur dan bergerak seiring ayunan gempa. Jika bangunan kayu ternyata tetap runtuh, banyak ruangan kosong yang aman akan terbentuk.
Disamping itu, bangunan kayu memiliki sedikit konsentrasi dari bagian yang berat. Bangunan dari batu bata akan hancur berkeping-keping.
Kepingan batu bata akan mengakibatkan luka badan tapi hanya sedikit yang meremukkan badan dibandingkan beton bertulang.

4. Jika anda berada di tempat tidur pada saat gempa terjadi, bergulingla h ke samping tempat tidur.
Ruangan kosong yang aman akan berada di samping tempat tidur.
Hotel akan memiliki tingkat keselamatan yang tinggi dengan hanya menempel kan peringatan di belakang pintu agar tamu- tamu berbaring di lantai di sebelah tempat tidur jika terjadi gempa.

5. Jika terjadi gempa dan anda tidak dapat keluar melalui jendela atau pintu, maka berbaring lah meringkuk di sebelah sofa atau kursi besar.

6. Hampir semua orang yang berada di belakang pintu pada saat bangunan runtuh akan meninggal.
Mengapa?
Jika anda berdiri di belakang pintu dan pintu tersebut rubuh ke depan atau ke belakang anda akan tertimpa langit-langit di atasnya.
Jika pintu tersebut rubuh ke samping, anda akan tertimpa dan terbelah dua olehnya.
Dalam kedua kasus tersebut, anda
tidak akan selamat!

7. Jangan pernah lari melalui tangga.
Tangga memiliki "momen frekuensi" yang berbeda (tangga akan berayun terpisah dari bangunan utama).
Tangga dan bagian lain dari bangunan akan terus-menerus berbenturan satu sama lain sampai terjadi kerusakan struktur dari tangga tersebut.
Orang-orang yang lari ke tangga sebelum tangga itu rubuh akan terpotong- potong olehnya.
Bahkan jika bangunan tidak runtuh, jauhilah tangga. Tangga akan menjadi bagian bangunan yang paling mungkin untuk rusak. Bahkan jika gempa tidak meruntuhk an tangga, tangga tersebut akan runtuh juga pada saat orang-orang berlarian menyelamat kan diri.Tangga tetap harus diperiksa walaupun bagian lain dari bangunan tidak rusak.

8. Berdirilah di dekat dinding paling luar dari bangunan atau di sebelah luarnya jika memungkinkan.
Akan lebih aman untuk berada di sebelah luar bangunan daripada di dalamnya.
Semakin jauh anda dari bagian luar bangunan akan semakin besar kemungkinan jalur menyelamatkan diri anda tertutup.

9. Orang-orang yang berada di dalam kendaraan akan tertimpa jika jalanan di atasnya runtuh dan meremukkan kendaraan; ini yang ternyata terjadi pada lantai-lantai jalan tol Nimitz.
Korban dari gempa bumi San Fransisco semuanya bertahan di dalam kendaraan mereka & meninggal. Mereka mungkin dapat selamat dengan keluar dari kendaraan dan berbaring di sebelah kendaraan mereka.
Semua kendaraan yang hancur memiliki ruangan kosong yang aman setinggi 1 meter di sampingnya, kecuali kendaraan yang tertimpa langsung oleh kolom jalan tol.

10. Saya menemukan, pada saat saya merangkak di bawah kantor perusahaan koran dan kantor lain yang menyimpan banyak kertas bahwa kertas tidak memadat.
Ruangan kosong yang besar ditemukan di sekitar tumpukan kertas- kertas.

Sebarkan informasi ini dan selamatkan nyawa orang
yang anda cintai.

Terima kasih
Semoga bermanfaat
Artikel kiriman sdr Kangsa Sasmita (060509

Rabu, 25 Februari 2009

Senin, 23 Februari 2009

Mesjid Kecil Peranap-Air MOlek

Suara ngaji di mesji tiba-tiba terputus saat kami beranjak dari peranap. itu artinya pemadaman sudah dimulai. sebentar lagi magrib, dasar PLN, selalu matikan lampu saat orang mau sholat magrib, mungkin demikian gerutu orang2 saat itu. Sholat magrib di jalan aja, kira-kira demikian usul sang sopir yang tak terucapkan, dan diamini seluruh penumpangnya.
Jam 18.30, gelap sepanjang jalan, lampu mati, tapi sebagian ada yang hidup terang benderang, brarti dia pake genset. kapan sholat magrib? demikian pertanyaan penumpang yang juga tidak terucapkan. Nanti kita cari mushola, kata sang sopir yang seolah2 tau pertanyaan dalam hati penumpang.
Sebuah mesjid kecil berdiri pas di tikungan, agak tinggi dari jalan, dan keliatannya terang benderang. kami berhenti dan langsung turun nyari tempat wudhu. Di dalam mesjid 3 orang laki2 yang sudah tua dan kira2 tiga orang perempuan yang juga sudah tua baru saja selesai sholat. PEmandangan yang biasa sebenarnya. Yang gak biasa kalo mesjid tu rame sama anak muda yang lagi sholat pas magrib atau waktu lain.
Wudhu, sholat, dan doa....dan tiba-tiba sgelas air mineral (aqua gelas) dibagikan oleh pengurus mesjid kepada kami. silakan minum, dengan ramah mereka persilakan kami minum. sejurus kemudian sebuah mobil berhenti lagi dan 3 orang laki2 setengah baya juga masuk untuk sholat, kembali pengurus mesjd tersebut mengambil aqua gelas dan menyiapkannya untuk orang2 terebut pabila mereka selesai sholat.

YAng terpikir olehku waktu itu ketika dihidangankan minuman adalah, Dimana tempat infaknya? Sebuah sambutan yang bagus dan menyentuh, keramahan ala orang desa, mereka tidak menyorongkan kota infak, tapi menghidangkan air minum. namun justru kami yang nyari kotak infaknya. mereka tempatkan kota infak di dekat mimbar, di atas meja. tidak disodorkan ke kami. tapi sentuhan hangat dari penduduk desa membuat kami ikhlas seikhlasnya memberikan infak, yang mungkin lebih besar dari biasanya.

Catt. Ikhlas tidak bisa dinilai oleh diri sendiri sebenarnya, apalagi kalo sudah dipublikasikan kayak gini. tapi itu cuma pngambaran aja.

Kamis, 19 Februari 2009

KEPOMPONG DAN KUPU-KUPU

Dua kali saya menerima email yang sama, yaitu tentang seseorang dan kepompong. Dulu waktu saya kuliah dan terakhir sekitar sebulan yang lalu.
Saya tertarik untuk membahasnya karena disamping saat ini lagu kepompong nya sindentosca lagi hits, juga pesan moral nya terasa mengena, baik ketika waktu saya kuliah maupun sekarang ini.
Isi email tersebut adalah seperti di bawah ini :

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu. Suatu hari lubang kecil muncul. Dia duduk mengamati dalam beberapa jam calon kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu.
Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.
Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap- sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.
Semuanya tak pernah terjadi.
Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut.
Dia tidak pernah bisa terbang.
Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.
Sesudah pesan itu tertulis morald hazard yang panjang lebar menerangkan sesuatu tentang proses atau perjuangan.
Tiba-tiba saya jadi merasa pernah menjadi kepompong di dalam cerita itu. Ketika proses kepompong saya rasakan terlalu lama, keinginan untuk mendobrak, menyobek dan menyeruak keluar dari kepompong begitu besar. Tapi apa daya saya gak bisa melakukannya dari dalam, yang bisa tentuanya orang dari luar kepompong itu sendiri.
Akhirnya saya mengerti, bahwa proses kepompong atau keluar dari kepompong adalah sebuah proses yang diciptakan Tuhan untuk membuat kita lebih matang dan jadi ”orang”.
Sering kita tidak sabar dengan proses, dan ingin cepat keluar dari proses tersebut dengan instan. Siapapun anda, apapun jabatan anda sekarang itu adalah proses untuk menjadi yang lebih baik lagi dari sekarang.
Ketika saya menjadi manager ranting di sebuah pulau, dua tahun pertama saya rasakan terlalu lama. Saya merasa sudah cukup waktunya untuk ”belajar”. Selama ini saya memang merasa saya di tempatkan disana untuk belajar. Namun ketika 2 tahun saya lewati dan ternyata tidak ada tanda2 pindah walaupun isunya sangat kental waktu itu, saya mulai sedikit merasa terlupakan, kecil hati, dan demotivasi.
Tahun ketiga saya lewati dengan lebih berat, karena selain demotivasi, juga ternyata kondisi pekerjaan yang bobotnya makin meningkat dengan adanya pemadaman sepanjang tahun. Ini tidak pernah terjadi. Dua tahun pertama saya lewati dengan ongkang-ongkang kaki, hampir tidak ada kendala yang berarti. Kinerja tercapai begitu saja tanpa kerja yang berarti. Namun tahun ketiga semuanya menjadi berat. Pemadaman, mesin rusak disana sini, demonstrasi, dan belum lagi persoalan pegawai yang makin bermasalah ditambah lagi beban kinerja yang makin berat.
Seluruh suasana hati yang makin galau dan tertekan membuat saya tiba-tiba saya jadi bisa menulis. Saya juga bikin blog. Dementor adalah tulisan pertama saya yang mengambarkan suasana hati saya ketika itu. Dan tulisan itu berlanjut. Saya juga semakin dekat dengan wartawan. Hampir setiap minggu berita tentang saya ada di surat kabar harian lokal. Saya juga semakin dekat dengan aparat di daerah, Danlanal, Kapolres, Wakil Bupati, Camat, RT, RW. Semuanya menjadi seperti sahabat yang mendukung saya. Dan intinya saya merasa menjadi semakin tegar dan berbobot.
Ketika tulisan pengalaman saya yang saya kirimkan karena ada permintaan untuk sharing knowledge berhasil menjadi tulisan terbaik, sebuah titik cahaya seolah ada di depan saya. Saat itu jugalah tulisan tentang seseorang dan kepompong masuk ke email saya.
Tuhan ternyata maha bijaksana, kalau dulu pengharapan saya untuk pindah dalam waktu 2 tahun terkabul, saya tidak akan mendapatkan pengalaman satu tahun yang berharga. Tuhan lebih tahu kapan kita akan keluar dari kepompong untuk menjadi seekor kupu-kupu.
Eits..maaf, tidak semua kepompong yang menjadi kupu-kupu. Saya ingat waktu kecil ketika pelajaran tentang metamorfosis kupu-kupu diajarkan disekolah. Di rumah saya dan saudara-saudara saya mempraktekan seperti yang diajarkan di buku. Di halaman saya banyak tanaman pagar yang banyak ulatnya. Ulat-ulat itu kami tangkap dan masukkan ke dalam stoples lengkap dengan daun-daunnya. Stoples tersebut kami tutup dengan plastik yang terlebih dahulu dilobangi.
Tiap hari kami lihat stoples tersebut. Tak lama kemudian ulat-ulatnya sudah berubah jadi kepompong. Kami semakin tak sabar menunggu kupu-kupu yang cantik yang akan keluar dari kepompong.
Suat pagi salah seorang saudara saya berteriak2 kegirangan. Kepompong kami sudah menjadi kupu-kupu. Semua berkumpul dekat stoples untuk melihat. Tetapi serangga apa itu, tidak semuanya menjadi kupu-kupu. Sebagian malah jadi binatang yang kami waktu itu tidak tau namanya, hitam, kecil punya sayap dan sering saya lihat di bunga halaman depan. Ternyata tidak semua kepompong jadi kupu-kupu.
Profil Facebook Badruz Zaman

Senin, 16 Februari 2009

HIDUP TEKNIK

Sebuah kilas balik (bagian pertama)

Hidup Teknik 3x…

Yel-yel itu masih terngiang di telinga manakala mengenang masa-masa OSPEK dulu. Tidak cukup Cuma 2 minggu atau 2 bulan, tapi 1 tahun penuh kami di pelonco. Kami tidak ada tempat mengadu, tidak ada tempat berlindung, katanya mereka membentuk mental kami, tapi kenapa harus seperti ini? Pergolakan2 itu terus berputar-putar lagi dalam kepala saya. Stres, capek, letih, dan bahkan depresi, ya benar, kawan saya sempat depresi berat dan seperti orang linglung. Namun ditengah kondisi mental seperti itu, ada satu kalimat dari senior saya yang menguatkan dan ini jujur, bahkan sampai sekarang menjadi pedoman saya dalam menjalani tugas yang semakin hari semakin berat. Cuma 2 kata, “jalani saja” toh semua itu pasti akan berakhir (kata yang terakhir cuma ada dalam benak saya).

Sekarang di dunia kerja, yang saya hadapi lebih berat. Ternyata semua yang saya alami waktu OSPEK dulu tidak ada apa2nya dibandingkan dengan dunia kerja sekarang, sungguh, dan sekali lagi lembaran-lembaran OSPEK terbuka lagi dalam benak saya, dan itu anehnya hal itu membuat saya bisa tersenyum. Sekali lagi teringat lagi kata-kata senior “jalani saja” semua ada akhirnya kok.

Rekan-rekan sekalian, ini bukan sinetron indonesia, dimana si tokoh jahat tiba2 dengan mudah menjadi sadar dan menjadi orang baik berhubung karena durasinya mau habis, dan terkesan sekali dipaksakan. Tidak dengan hal OSPEK ini, saya tidak dengan tiba2 sadar bahwa OSPEK ini adalah hal baik yang harus wajib dilakukan untuk semua siswa baru untuk membentuk mental mereka. Tapi saya juga tidak menyarankan bahwa apa yang sudah kami terima dulu juga harus dilakukan pada mahasiswa-mahasiswa baru sekarang.

Terus terang saya juga kurang setuju dengan pola-pola pelonco seperti itu. Tidak mendidik, betulkah? Ya setidaknya tidak semuanya yang mendidik, banyak juga yang hanya untuk “kesenangan senior” semata. Tapi tidak semua senior yang seperti itu, masih banyak senior yang memang punya niat untuk membantu membentuk mental adik2 barunya, walaupun mereka bukan lulusan psikologi manapun ataupun lembaga pengembangan kepribadian.

Bang Nal, Iwan kur, Akang, Roni kal, dan maaf buat senior2 yang lain, sosok2 inilah yang begitu kental membayang dalam ingatan manakala mengingat masa OSPEK dulu. Gak tau kenapa, mungkin karna rambut mereka gondrong waktu itu, dan iwan kur yang petantang petenteng menghardik kami semua yang kena hukuman, yang jelas karena mereka ada di TIM TATIB waktu itu (ini perkiraan saya aja). Tapi ingatan2 itu kemudian jadi bagian dari kenangan-kenangan indah yang menjadi enak untuk diceritakan di masa2 sesudahnya.

Kembali kepada membentuk mental, atau pola pikir mahasiswa baru, entah mengacu kepada siapa atau buku apa, seolah-olah senior waktu itu (termasuk kami tahun berikutnya) mempunyai teori yang begitu cemerlang. Bersihkan adik2 itu dari pola pikir masa SMA yang lebih banyak egonya, kemudian doktrin mereka dengan pola-pola baru yang lebih “teknik”. Saya khususkan teknik karena “Anak teknik berbeda dari anak UNAND” (kata mereka dan kata kami waktu itu) he eh..tapi setidaknya pola itu sudah berhasil pada kami, trus kepada angkatan sesudah kami dan entahlah kepada angkatan seterusnya.

Oke, mengenai OSPEK kita pending dulu, karena sudah ada dua angkatan di “program studi teknik elektro”. Artinya kami sudah bisa membuat himpunan. Lho, kalau himpunan belum ada, trus siapa yang meng OSPEK kami? Maaf adik2, kami waktu itu meneriakan hidup teknik MESIN, 3 kali. Kenapa?

Kenapa? Karena jurusan teknik elektro belum ada, gedung teknik elektro belum ada, dosen teknik elektro sudah ada tapi entah dimana, jangan harap kami punya labor, punya buku2 referensi, atau setidaknya seseorang yang bisa ditanyai ini itu. Tidak sama sekali. Teman saya Peri (Konti) kalo ditanya kenapa masuk teknik elektro, jawabanya karena “takicuah oleh pak Sukri”. Hehehe…Pak sukri memang seorang motivator yang hebat. Kami semua terkagum-kagum dengan beliau sewaktu memaparkan program teknik elektro ke depan sewaktu OSPEK. Elekteo satu2nya proyek percepatan insinyur yang dananya dibiayai langsung dari ADB. Elektro ke depan bakal mempunyai gedung megah, labor lengkap, dan lokasinya sedang disipakan di Limau manis. Wah, Bangga telah memilih teknik elektro (sesudah teknik mesin) karena merasa derajat kami naik satu derajat dibanding teknik2 lainnya. Setahun, dua tahun, tiga tahun, kebanggaan itu masih ada tapi kualitasnya memudar. Kami semua mahasiswa “fiktif”, katanya anak elektro, tapi gak punya apa2 yang menandai ke elektroanya. Sewaktu ketua jurusan lainnya bertitel Master atau Doktor, Phd, ketua jurusan elektro adalah seorang ST. yah ST, dan bahkan bukan Insinyur, walaupun sama tetapi setidaknya lebih bergengsi kalau insinyur.

Hal lain yang membuat kebanggaan memudar adalah minat mahasiswa baru memilih elektro bertambah sedikit, angkatan sesudah kami sedikit (banget). Saya tidak begitu ingat jumlahnya, tapi Ceweknya cuma ada 4 (padahal angk kami Cuma ceweknya Cuma 3), yang satu ceweknya besar, 3 lagi kecil2 (maaf seribu maaf jangan tersinggung). Dan tipikal ceweknya asli teknik, teknik banget.

Catt. Waktu itu keberhasilan sebuah jurusan dalam meraih peminat, sebagian mahasiswa menilai dari jumlah ceweknya, semakin banyak ceweknya brarti peminat jurusan itu banyak. Sebuah logika yang aneh.

OSPEK mahasiswa baru angkatan 96 waktu itu dapat kami selesaikan cuma satu semester. OSPEK pertama yang betul2 punya elektro. Waktu tercepat dibandingkan dengan jurusan lain. Selain karena waktu itu semangat kami sedang menggebu2 untuk ingin “menghajar anak baru”, tapi juga karena waktu itu ada larangan acara yang berhubungan dengan penerimaan mahasiswa baru diluar kampus. Trus kenapa kami bisa “menghajar” angk 96? Karena mereka kami kibuli dengan acara studi lapangan ke PLTU Ombilin, dan sehabis studi lapangan, baru mereka kami hajar di Sawah Lunto, dan benar2 dalam sawah. Tapi jangan marah, sebab mereka mendapat pengalaman yang berharga, setidaknya mereka pernah lihat bagaimana sebuah PLTU satu2nya di SUMBAR dioperasikan. Saya aja belum pernah lihat, karena sewaktu mereka studi lapangan, saya menyiapkan lapangan yang sebenarnya…